Opini-Nasgor Cak Mad

Nasgor Cak Mad Melawan Keruwetan Pandemi

Oleh : Masbahur Roziqi

Penulis adalah guru bimbingan dan konseling SMA Negeri 2 Kraksaan sekaligus penikmat Nasgor Cak Mad

Namanya Cak Mad. Penjual nasi goreng (nasgor) sebelah timur DNC Car Wash Probolinggo. Nasgornya mantap. Enak sekali. Dia meramu nasgornya dengan cespleng. Mulai menuangkan bumbu hingga menggoreng pada wajan, dia lakukan dengan cekatan. Dan, hmm, nasgornya terbukti maknyus.

Sebenarnya Cak Mad bagian dari korban pandemi covid-19. Dia terkena dampak dirumahkan oleh tempatnya bekerja. Tidak masuk kerja dan mendapat upah tidak penuh. Belum ada kabar lagi kapan akan dipanggil kembali. Dia menjadi salah satu dari gelombang ribuan orang yang tiba-tiba tidak lagi bekerja.

Namun Cak Mad melawan. Dia tidak sudi menjadi korban pandemi lama-lama. Boleh satu dua bulan dia rehat. Tidak bekerja. Biasanya bekerja hingga larut malam. Kemudian tidak lagi. Nafkah kepada keluarga harus terus mengalir. Dia memutuskan tetap berdaya. Tidak merengek meminta bantuan pemerintah. Walau sebenarnya dia berhak. Jaring Pengaman Sosial (JPS) berupa bansos bukannya bisa untuk orang yang dirumahkan/di PHK? Tapi Cak Mad memilih mandiri. Emoh menghadapi keruwetan pandemi. Apalagi jika nanti menghadapi keruwetan birokrasi. Lebih tambah emoh.

Potret Cak Mad adalah salah satu simbol perlawanan. Ya, Cak Mad melawan. Dia mengistilahkan dirinya “harimau yang terbangun”. Saatnya mengaum. Selama ini tertidur. Bekerja pada orang lain. Tiba saatnya dia berdikari. Melawan pandemi yang menghajar segala sektor. Termasuk pekerjaan sebelumnya. Dengan berdikari, dia berupaya tetap berdiri. Tidak limbung karena hantaman ekonomi. Upayanya sedikit demi sedikit terbukti. Banyak orang kesengsem nasgornya. Termasuk saya.

Nasgor Cak Mad mengajarkan pula pentingnya kembali pada konsep berdaya, merdeka, dan berkolaborasi. Cak Mad tidak sendiri. Memang dirinya lah inisiator sekaligus penggerak gerobak nasgor Cak Mad. Namun dia mengajak dua temannya untuk berkolaborasi. Dia mengatakan kemandirian tidak melulu harus dinikmati sendiri.Apalagi harus selalu bersaing. Tapi juga bisa mengolaborasikannya dengan orang lain. Mengajak orang lain bekerjasama untuk bahu membahu berdikari.

Konsep Cak Mad ini tentu bagaikan sebuah oase di tengah pandemi. Ketika banyak kesulitan menerpa, Cak Mad mengulurkan tangannya sebagai simbol bahwa kolaborasi bersama sangat pas dilakukan saat pandemi ini. Boleh lah mereka mungkin tidak beruntung mendapatkan bantuan yang seharusnya bisa mereka dapatkan, namun bukan berarti kemudian berpangku tangan. Saat ketiganya bekerjasama berjualan nasi goreng, di saat itu lah perlawanan mereka pada pandemi semakin kokoh. Cak Mad memutuskan tidak melawan sendirian. Tapi bergandeng tangan bersama orang lain.

Tentu upaya Cak Mad ini tidak boleh hanya dilihat dari luar panggung. Saya dan beberapa tetangga juga ingin menjadi bagian perlawanan Cak Mad. Dengan cara kami membeli hasil kreasi nasi goreng buatan Cak Mad. Beberapa rupiah yang kami keluarkan untuk karya Cakd Mad mungkin belum seberapa dibandingkan perjuangan beliau melawan pandemi covid dengan berjualan nasgor. Namun bisa kami pastikan Cak Mad tidak sendiri. Para tetangga tetap bersama beliau bergandeng tangan berdikari melawan keruwetan pandemi. Kohesi sosial, meminjam istilah sosiologi, terpupuk dalam pada sikap para tetangga yang telah lama mengenal Cak Mad. 

Di samping itu sebenarnya fenomena Cak Mad ini merupakan peringatan bagi pemerintah. Baik pemerintah pusat maupun daerah. Bahwa akibat covid 19, banyak orang memerlukan stimulan pemberdayaan dari pemerintah. Bukan keinginan mereka untuk terpuruk secara ekonomi. Adanya orang-orang seperti Cak Mad tidak hanya perlu apresiasi berupa pujian dan semangat. Namun juga berupa stimulus terstruktur yang mampu menjaga keberdayaan mereka  dalam mengembangkan usahanya.

Sinkronisasi data penerima bantuan layak harus terus diupdate. Gunakan anggaran daerah dan pusat untuk meningkatkan kualitas verifikator. Termasuk pula kualitas pengawas penyaluran dana bantuan. Ini bertujuan anggaran tidak jatuh pada orang yang tidak berhak. Apalagi menjadi bancakan pihak-pihak tertentu. Ini yang tidak boleh terjadi.

Berikutnya, nasgor Cak Mad menunjukkan bahwa semangat seorang wali murid untuk pendidikan anaknya tetap terjaga. Cak Mad yang memiliki anak yang bersekolah di salah satu sekolah dasar, menjadikan hasil penjualan nasgornya salah satunya untuk membiayai pembiayaan belajar daring sang anak. Termasuk persiapan jika nantinya penerapan normal baru sekolah akan dilaksanakan.

Bagi Cak Mad, kemandirian ekonomi juga berarti memastikan pendidikan generasi bangsa tidak terputus hanya karena dampak pandemi. Dia membuktikan dirinya mampu berdikari membiayai anaknya meningkatkan kualitas diri sebagai generasi penerus bangsa. Ini pula lah yang harus menjadi perhatian pengambil kebijakan dalam melaksanakan dan mengevaluasi kebijakan pendidikan nantinya.

Banyak hal dapat masyarakat pelajari dari munculnya nasgor Cak Mad dalam melawan pandemi. Dia memprotes keadaan tidak dengan berteriak menyalahkan orang lain. Namun dengan bukti nyata kemandirian ekonomi. Secara tidak langsung menurut saya, ini jauh lebih berteriak. Cak Mad berteriak lewat gerobak nasgornya bahwa keadaan ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Negara harus memastikan turun melindungi rakyatnya. Nasgor Cak Mad menyadarkan saya bahwa negara tidak boleh abai. Rakyat yang menjadi taruhannya. Terima kasih Cak Mad. Nasgornya memang mak nyus.

 


Comments

Popular posts from this blog

Opini-Paradigma ideal Pembangunan Fisik Sekolah

Opini-Urgensi RUU PKS